Semua diskusi
Donny Sanjaya, M.Kom
Dosen TRPL Di Politeknik Negeri Medan · Medan· bertanya 3 jam
Kampus
Kampus

Masih efektifkah pola penilaian mahasiswa kita di tengah maraknya penggunaan AI?

Sebagai dosen di politeknik, saya merasakan betul perubahan cara mahasiswa mengerjakan tugas sejak alat AI generatif mudah diakses. Laporan praktikum yang dulu butuh berhari-hari kini bisa rampung dalam hitungan jam, rapi dan nyaris tanpa salah ketik. Di satu sisi ini kemajuan, tetapi di sisi lain saya mulai ragu: apakah nilai yang saya berikan masih mencerminkan kemampuan mahasiswa yang sebenarnya? Pendidikan vokasi menekankan keterampilan nyata di lapangan, sementara banyak pola penilaian kita masih bertumpu pada tugas tertulis, laporan, dan ujian yang dikerjakan di rumah. Beberapa rekan mulai beralih ke ujian praktik langsung, presentasi lisan, atau penilaian berbasis proyek dengan tahapan yang dipantau. Ada juga yang justru mengizinkan AI, asalkan mahasiswa mampu menjelaskan proses dan alasan di balik jawabannya.

Pemantik: Menurut pengalaman Anda, pola penilaian seperti apa yang masih efektif untuk mengukur kemampuan mahasiswa di era AI seperti sekarang?

  • Apakah Anda, sebagai dosen maupun mahasiswa, pernah merasakan nilai tugas tidak sejalan dengan kemampuan praktik yang sebenarnya?
  • Perlukah penggunaan AI dilarang dalam tugas, atau justru diatur dengan aturan yang jelas dan transparan?
  • Bagaimana cara yang adil untuk menilai proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya?
Jawab
4 jawaban 37 dilihat
Punya jawaban atau pengalaman serupa? Bagikan ke penanya. Masuk untuk menjawab

4 Jawaban

Diurutkan dari dukungan terbanyak
Andam LukcyHasnita Koto
Multimedia Enthusiast · Medan · 1 jam

Sebagai dosen Multimedia, menurut saya AI sekarang udah mengubah banget cara mahasiswa ngerjain tugas. Apalagi di bidang multimedia, AI bukan cuma bisa bantu bikin teks, tapi juga generate gambar, video, bahkan animasi. Jadi, kadang hasil tugas mahasiswa kelihatan keren banget, but we never really know sejauh mana mereka actually paham proses di balik karya itu.

Menurut saya, AI nggak harus di-ban sepenuhnya. Justru mahasiswa perlu belajar memanfaatkan AI karena di dunia kerja nanti teknologi ini bakal makin relevan. Tapi, yang perlu jadi concern adalah gimana mereka menggunakan AI, bukan sekadar hasil akhir yang mereka submit.

Misalnya, ketika mahasiswa bikin video atau animasi, saya nggak cuma mau lihat hasilnya bagus atau nggak. Saya juga pengin tahu mereka paham nggak soal editing, storytelling, timing, dan alasan di balik keputusan kreatif yang mereka ambil. Kalau dikasih revisi, mereka juga harus bisa explain dan improve karyanya sendiri.

At the end of the day, AI can generate the work, but students still need to understand the work. Buat saya, penilaian di era AI harus lebih fokus ke proses, critical thinking, dan skill yang benar-benar mereka kuasai, bukan cuma hasil akhir yang kelihatan impressive.

K
Khairil Azhar
Pemula · Medan · 2 jam

Even using AI, you need strong analytical and literacy skills to create a really good prompt. Students with lower analytical ability may struggle to come up with the right prompt. They will never be the same.

But teachers with lower ability may find it difficult to see the difference. In other words, the problem is not with AI, but ....

Mardiana
Pemula · Medan · 1 jam

Menurut saya, pola penilaian mahasiswa di era kecerdasan buatan (AI) masih relevan, tetapi perlu disesuaikan dengan karakteristik pendidikan vokasi yang menekankan keseimbangan antara pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja. Dalam pendidikan vokasi, keberhasilan mahasiswa tidak cukup diukur dari kemampuan menghasilkan laporan yang baik atau menjawab soal ujian dengan benar, tetapi juga dari kemampuannya menerapkan pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan nyata di dunia kerja.

Sebagai dosen di politeknik, saya berpendapat bahwa **penilaian berbasis unjuk kerja (*performance-based assessment*) perlu menjadi salah satu komponen utama penilaian mahasiswa**. Misalnya, pada pembelajaran Teknik Elektro, mahasiswa tidak cukup hanya menyerahkan laporan praktikum tentang rangkaian listrik. Mereka harus mampu merakit rangkaian, menggunakan alat ukur dengan benar, mengidentifikasi gangguan, melakukan troubleshooting, menerapkan prosedur K3, serta menjelaskan alasan teknis dari setiap tindakan yang dilakukan. Dengan cara ini, dosen dapat menilai kompetensi mahasiswa secara lebih autentik.

Terkait penggunaan AI, menurut saya pelarangan secara menyeluruh bukanlah satu-satunya solusi. AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memahami teori, menyusun rancangan awal, atau menganalisis data. Namun, penggunaannya harus diatur secara jelas dan transparan. Mahasiswa tetap wajib membuktikan bahwa mereka memahami hasil pekerjaannya dan mampu menerapkannya secara mandiri. Dalam pendidikan vokasi, hasil yang terlihat baik di atas kertas belum tentu mencerminkan keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja.

Selain hasil akhir, proses pembelajaran juga perlu menjadi bagian dari penilaian. Dosen dapat menilai tahapan pengerjaan proyek, ketepatan prosedur, kemampuan memecahkan masalah, kedisiplinan, kerja sama tim, serta kemampuan mengevaluasi kesalahan. Penilaian dapat dilakukan melalui demonstrasi praktik, observasi langsung, presentasi teknis, portofolio proyek, dan uji kompetensi individual.

Dengan demikian, tantangan pendidikan vokasi di era AI bukan sekadar memastikan mahasiswa tidak menyalahgunakan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi tersebut mendukung pencapaian kompetensi. **AI boleh membantu mahasiswa menyelesaikan pekerjaan, tetapi keterampilan, pemahaman, kreativitas, dan tanggung jawab profesional tetap harus dibuktikan melalui kinerja nyata.** Inilah yang perlu menjadi dasar pengembangan sistem penilaian di politeknik agar lulusan tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga kompeten dan siap menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Friendly
Pemula · Medan · baru saja

A. Sudah merasakan, baik dari Tugas akhir, Skripsi, tugas kelas, tugas projek, dan bukan hanya kemampuan praktik, kemampuan analisa yang menjadi CPL matakuliah pun tidak tercapai. "Tetapi ini lebih khusus ke matakuliah yang basisnya software (word, ppt, gambar, program, dll)", kalau praktek seperti keterampilan memasang/membongkar mesin, menyolder, itu gak bisa.

B. Tidak bisa. Ibaratnya, kita gak bisa melarang orang mengambil batu bahan bangunan kita kalau kita letakkan di pinggir jalan. Selalu ada cara untuk menggunakan AI dalam mengerjakan tugas, bahkan dengan menggunakan paraphrase. Kalau aturan agak sulit diterapkan, mungkin lebih ke:

  1. merubah metode pembelajarannya, yang semula lebih ke praktik atau hasil akhir program, ini lebih ke pemahaman.
  2. Membuat alat analisa kemampuan dalam PBM. Contoh: membuat sebuah program + flowchart. Kasus ini sudah saya coba terutama pada mahasiswa yang mengerjakan Laporan Tugas Akhir, dimana 100% yang saya revisi tidak bisa membuat flowchart dari program yang "dibuat"-nya, berarti program dibuat dengan AI dan mahasiswa tidak menguasai program sama sekali

C. Sebagai dosen dengan background pemrograman, penilaian itu harus lebih kreatif. Yang dinilai adalah CPL dari matakuliah, untuk itu kita sebagai dosen, sebaiknya melakukan evaluasi secara langsung contohnya:

  1. penilaian langsung dengan diskusi, tanya jawab seputar materi dan problem solving. Disini penerapan problem solving bisa dibuat dalam bentuk presentasi. Pengalaman saya, mahasiswa yang menjawab soal seperti ini menggunakan AI memiliki kecendrungan tidak bisa menjelaskan bagaimana sebenarnya problem solving ini terjadi dan mengapa.
  2. Membuat soal close all dan menjawab dengan tertulis
  3. Presentasi project, dimana si mahasiswa harus mampu:
    1. menerapkan materi dalam project
    2. mengembangkan materi project untuk menyelesaikan sebuah kasus (misal pembuatan aplikasi)
    3. project "wajib" menerapkan materi perkuliahan

Langkah ini saya terapkan juga, untuk menilai CPL tercapai atau tidak, karena sejalan dengan OBE, kalau gak bisa mejawab metode diatas, berarti CPL nya gak tercapai dan memang nilainya diberikan sesuai dengan apa yang dipahami, bukan menilai hasil akhir secara langsung.

Gambar status WhatsApp
Menyiapkan gambar…
Di HP: tekan Bagikan → WhatsApp → Status. Atau unduh gambarnya, lalu unggah sebagai status.