Masih efektifkah pola penilaian mahasiswa kita di tengah maraknya penggunaan AI?
Sebagai dosen di politeknik, saya merasakan betul perubahan cara mahasiswa mengerjakan tugas sejak alat AI generatif mudah diakses. Laporan praktikum yang dulu butuh berhari-hari kini bisa rampung dalam hitungan jam, rapi dan nyaris tanpa salah ketik. Di satu sisi ini kemajuan, tetapi di sisi lain saya mulai ragu: apakah nilai yang saya berikan masih mencerminkan kemampuan mahasiswa yang sebenarnya? Pendidikan vokasi menekankan keterampilan nyata di lapangan, sementara banyak pola penilaian kita masih bertumpu pada tugas tertulis, laporan, dan ujian yang dikerjakan di rumah. Beberapa rekan mulai beralih ke ujian praktik langsung, presentasi lisan, atau penilaian berbasis proyek dengan tahapan yang dipantau. Ada juga yang justru mengizinkan AI, asalkan mahasiswa mampu menjelaskan proses dan alasan di balik jawabannya.
Pemantik: Menurut pengalaman Anda, pola penilaian seperti apa yang masih efektif untuk mengukur kemampuan mahasiswa di era AI seperti sekarang?
- Apakah Anda, sebagai dosen maupun mahasiswa, pernah merasakan nilai tugas tidak sejalan dengan kemampuan praktik yang sebenarnya?
- Perlukah penggunaan AI dilarang dalam tugas, atau justru diatur dengan aturan yang jelas dan transparan?
- Bagaimana cara yang adil untuk menilai proses belajar, bukan hanya hasil akhirnya?
