Free will vs determinisme: apakah manusia benar-benar bebas memilih?
Setiap hari kita merasa sedang memilih: mau makan apa, mau jujur atau tidak, mau menolong atau diam. Tetapi ada pandangan bahwa semua keputusan itu sebenarnya sudah ditentukan oleh sebab-sebab sebelumnya, seperti genetik, lingkungan, pengalaman masa kecil, bahkan hukum fisika yang mengatur kerja otak.
Di sisi lain, ada yang berpendapat kehendak bebas itu nyata, atau setidaknya compatible dengan determinisme (kompatibilisme).
Pemantik: Jika semua sudah ditentukan, apakah adil menghukum pelaku kejahatan?
- Apakah rasa "saya yang memilih" hanya ilusi?
- Kalau tanggung jawab moral tetap perlu, apa dasarnya bila pilihan tidak sepenuhnya bebas?
- Bagaimana pandangan agama dan budaya kita tentang takdir dan ikhtiar dalam perdebatan ini?
